Postingan

Hujan di Ujung Senja Part 7 (Dilema)

Roan sedang tertidur di atas sebuah karpet empuk berwarna merah menyala. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan halus menelusuri tubuhnya. Roan sedikit bergidik, lalu dengan perlahan-ahan ia membuka matanya untuk melihat siapa yang melakukan itu kepadanya. Mata Roan menangkap sosok Chanda. Sedang merangkak menelusuri tubuhnya. Chandra hanya mengenakan celana super pendek hingga pahanya yang berotot bisa terlihat dengan jelas. Hawa dingin menggelitik kulit Roan, saat melihat kebawah, ia baru menyadari bahwa kini tubuhnya sedang telanjang.   “ Malam ini kau milikku “ bisik Chandra di telinganya dengan lembut.             Roan bergidik namun ia tetap diam di tempatnya. Merasa terus ingin melakukan hal ini sampai akhirnya. Chandra naik ke tubuhnya. Mendekatkan wajahnya, ketika sampai di bagian leher tiba-tiba Chandra menggigitnya dan Roan pun menjerit dengan keras. . .          ...

CHILDHOOD (Finished)

Pintu dan jedela kamar sudah kututup rapat-rapat. Lampu kamar juga sudah kumatikan. Ku rebahkan tubuhku yang sedikit lelah ini di kasur berbahan kapuk yang sedikit keras. Pandangan yang gelap membuat pemikiranku pergi kemana-mana. Perintah untuk segera pulang kembali ke Jakarta esok hari membuat hatiku sedikit berat. Apalagi jika mengingat kembali wajah habib saat tadi berpisah denganku. Wajahnya seperti memohon aku untuk tidak pergi secepat ini. Beberapa hari berada di kampung dan bertemu dengannya membuat diriku semakin yakin. Aku telah jatuh kedalam jurang cintanya. Aku mengakui itu, terbukti dengan selalu berdebarnya hatiku apabila dekat dengannya. Duk! Suara jendela kayu kamarku terdengar. Sakli lagi suara itu datang. Aku singkapkan selimutku dan kubuka jendela. Habib berdiri sambil memandangku. Ia mengenakan celana sayur hitam dengan baju putih tipis tanpa lengan.   “Kamu sedang apa Bib? Gak dingin?” Habib mengusp-usap lengannya sambil menyernyih.   “Ayo masuk...

CHILDHOOD (Bagian 2)

Halimun tipis di cakrawala pagi sedang bergerak beriringan. Seolah-olah mereka ingin menyapa sang embun yang baru saja membasahi padi dam rumput-rumput liar di sawah. Speaker di surau masih menyala, melantunkan puji-pujian terhadap sang maha kuasa. Pagi ini tubuhku sedikit menggigil kedinginan. Biasanya saat di rumah, aku tertidur tanpa busana karena memang sangat panas. Ya kalian tahu lah bagaimana Jakarta. Tapi disini, aku harus mengenakan baju hangat tebalku lengkap dengan training panjang dan kaus kaki yang menutupi telapak kaki. Aku berjalan ke beranda rumah, menatap alam di pagi buta. Matahari masih belum menampakkan sinarnya. Tapi langit sudah mulai terang sedikit demi sedikit. Aku kembali masuk ke rumah dan langsung menuju dapur. Aku melihat nenek yang kini tengah duduk di depan tungku perapian. Nenekku sedang memasak air dan juga menanak nasi. Tangannya tak henti mengipaskan kayu bakar agar apinya tetap besar dan menyala.   “ Pandu, cik punten jang pang nyandakeun gayun...